Kamis, 20 September 2007

Tragedi GIA

Alkisah dalam perjalanan saya kembali ke Jakarta dengan GIA 737 dari Makassar.
Waktu menunjukkan pukul 07.00, waktu yang sangat tepat untuk menikmati sepiring sarapan pagi yang menyenangkan dan mengenyangkan.
Dari kejauhan saya melihat pramugari-pramugari itu sudah menawarkan dua pilihan sarapan kepada para penumpang, "Selamat pagi Bapak/Ibu, nasi goreng atau omelet?" begitu tawar pramugari A.
Sama halnya dengan pramugari B yang juga menawarkan menu yang sama di gang yang lain.

Dalam hati saya, "Ah, nasi goreng..gugugugu.."

Kebetulan, saya duduk di baris 18an. Jadi lama rasanya.
Akhirnya, pramugari A tiba di barisan saya,
Saya sudah siap-siap menjawab pertanyaannya, "Saya mau nasi goreng aja mbak." jika saja pramugari A itu dengan pandangan penuh sopan santun dan senyum terkembang tidak berkata, "Maaf, nasi gorengnya habis. Ini omeletnya."

Jadilah saya memakan omelet dengan wortel rebus, buncis rebus, dan kentang rebus.

Sangat tidak Indonesia.
Sangat tidak 'gue banget'.
Sangat mengecewakan.
Sangat tidak mengenyangkan.
Menyenangkan? Saya MASIH lapar.

Ah, seharusnya GIA melakukan market research dulu sebelum memutuskan proporsi nasi goreng dan omelet untuk sarapan pagi dalam pesawat penerbangan domestik.

Oiya, makanan pokok saya ternyata masih nasi.

Tidak ada komentar: